parenting

Untuk Ayah dan Bunda : Inilah akibat membandingkan anak dengan yang lainnya.


Minggu yang lalu saya kedatangan pasien sebut saja namanya Nia, ia masih berumur 20 tahun. Nia dan saya memang sudah mempunyai kesepakatan untuk berjumpa dan menjalankan sesi terapi, namun karena benturan dengan jadwal saya terapi di luar kota akhirnya Nia saya rekomendasikan kepada teman saya yang juga seorang praktisi hipnoterapi.

Sudah skenario dari Tuhan yang maha kuasa, teman saya pun jadwalnya full pada pekan tersebut, hingga akhirnya Nia menunggu jadwal saya yang kosong untuk bisa bertemu dan menjalankan sesi terapi.

Dihari sabtu (15/9/2018) lah akhirnya saya dan nia berjumpa diruang terapi, Seperti biasa saya dan nia berdialog dan bercerita tentang permasalahan-nya dengan tujuan agar saya bisa menyimpulkan diawal kenapa Nia bisa seperti ini.

Merasa Putus asa, Mengurung diri dirumah dan tertutup dengan ibunya inilah kasus dari Nia yang membuat dirinya ingin berjumpa dengan saya.

Dari cerita selama kurang lebih 30 menit, runtutan kejadian telah dipaparkan oleh Nia akhirnya saya mendapatkan kesimpulan.

1. Merasa Putus Asa nya Nia adalah ketika Nia dalam keadaan banyak diterpa masalah, Ayahnya tidak ada disampingnya, memang sejak lahir sampai sekarang ayahnya sudah tidak disampingnya, seolah kehidupan Nia yang paling sial, masalah terus datang, Permasalah satu belum selesai sudah muncul lagi, dan tidak ada orang yang bisa diajak berbagi cerita.

2. Efek dari Keputus Asaan inilah Nia selalu mengurung diri dirumah, jarang bergaul dan keluar rumah.

3. Sifat tertutupnya Nia dengan Ibunya dikarnakan Nia selalu di Banding-Bandingkan dengan yang lainnya bahkan dengan saudara-saudaranya sendiri. Inilah yang membuat Nia cukup tertekan, Tekanan dari orang tuanya yang ingin Nia menjadi apa yang dimau Ibunya membuatnya serba salah. Awalnya Nia bisa menahan emosi, semakin kesini Nia sudah tidak bisa menahan Emosinya, sehingga ketika ada permasalahan Nia lebih baik berdiam diri dan tidak mau bercerita kepada ibunya karena takut menjadi pikiran ibunya dan sekaligus menjadi omongan ibunya untuk lebih sering membandingkan Nia dengan saudara-saudaranya.

Saya Mencoba Men-Terapi Nia dengan " Qolbu Linguistic Technique " Seolah meluapkan semuanya Nia menangis saat sesi terapi dimulai, dan ini testimoni dari Nia setelah usai menjalankan Terapi


Saya sengaja meminta testimoni dari Nia karena memang saya lagi mencoba mengembangkan Teknik Terapi " Qolbu Linguistic ".

Bukan hanya Nia yang curhat tentang permasalahan dibanding bandingkan dengan orang tuanya, sudah banyak orang yang bercerita tentang keadaan seperti ini. Saya berpesan untuk para orang tua, Hayu sama sama mulai mengurangi membanding bandingkan anak dengan anak lain. Kapasitas seseorang tidak bisa disama ratakan dengan orang lain, minat da bakat seseorang pun pasti berbeda. Dukung terus anak untuk menjadi apa yang dia inginkan, dan jangan lupa bina terus anak dengan agama agar akhlak menjadi lebih baik.

Baca Juga artikel terkait di link berikut ini =>> Artikel Parenting



About Afrizal

2 comments:

  1. KEbanyakan orang tua begitu, suka membading-bandingkan anak-anaknya dengan saudara lainya,bahkan sama teman atau anak tetangga ini lah parahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener kang, makanya saya tulis artikel ini biar jadi pelajaran, kalau gak mau anaknya seperti Nia, jangan membanding bandingkan.

      Delete

Powered by Blogger.
/*### Code atau Tracking ID Google Analytic###*/ UA-78190159-1