Hypnotherapy

Cara Menangani Kasus Keluarga Part I



Cara Menangani Kasus Keluarga Part I sengaja saya tulis untuk pembelajaran bagi siapa yang membaca artikel ini. Saya akan menulis Part II dan seterusnya jika terapi yang saya lakukan berhasil 100%. Sebenarnya saya pribadi menangani kasus keluarga sudah cukup lama, ada yang berhasil ada juga yang tidak berhasil dan ada juga yang baru setangah jalan sudah di stop dikarenakan tidak sabarnya pasien untuk mendapatkan hasil maksimal. 

Cara Menangani Kasus Keluarga Part I murni kasus saya belum lama ini, dan saya pastikan tidak ada rekayasa dalam cerita, hanya saja identitas pasien disamarkan untuk menjaga kode etik sebagai seorang terapis. Kasus Keluarga Part II dan seterusnya bisa jadi saya tulis dari kasus kasus yang sudah lama saya tanganin dan sudah mendapatkan testimoni dari pasien.

Sebut saja namanya intan, seorang istri yang masih terbilang muda dengan dikaruniai 1 anak wanita yang cantik dan lucu. Saya ditelpon dengan teman untuk membantu menangani kasus kakaknya (intan). Ketika saya bilang kasusnya apa ? temen saya enggak menjelaskan, dia bilang nanti saja dirumah dijelaskan panjang lebar, soalnya bingung kalau dijelaskan lewat handphone.

Singkat cerita saya pun datang kerumahnya dan ngobrol sama kedua orang tua temen saya sekaligus orang tua intan.

Ibunya bercerita awal mula intan kenapa bisa seperti ini :

Awal mulanya, sewaktu intan pulang kajian dari masjid dan sampai rumah ia pingsan seperti orang kesurupan, dari semenjak kejadian tersebut intan sering ngelamun, makan susah, kadang emosinya tidak stabil, sering ngomong sendiri dan sekarang badanya kurus tidak seperti dulu yang berisi (Ujar Ibu intan).

Keluarga intan mengira in adalah gangguan ghoib dan meminta saya untuk meruqyah intan.

Saat saya berbincang dengan ibunya, intan keluar dari kamar dengan memegang handphone dan menyalami saya tanpa ada suara sedikitpun keluar dari mulutnya. Memang badannya sangat kurus sekali dan tatapan matanya kosong, bahkan intan sesekali berbicara sendiri seolah sedang membaca sesuatu.

Sekitar kurang lebih lima menit saya memperhatikan intan secara terus menerus, saya memperhatikan dari mulai gestur tubuh, tatapan matanya dan cara dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan ibunya.

Usai saya memperhatikan inta, saya pun langsung melontarkan pertanyaan kepada ibunya intan. " Ibu, bagaimana kondisi intan dirumah sana ? " Betah ? ataukah tidak betah ? "

Intan sering bilang mas kalau dia disana kesepian, terus terkadang para tetangganya tidak membuat dia nyaman, ditambah lagi suaminya jarang sekali mengajak intan ngobrol dikarenakan suaminya pulang larut malam terus, biasa mas kerjaan koki di hotel (Ujar ibu intan).

Lalu saya bilang dengan ibunya inta " bu, kapan bisa mempertemukan saya dengan suaminya? " 

Owh, bisa mas, hari ini katanya dia mau pulang cepat, paling habis isya suaminya pulang, emangnya kenapa mas ? ada apa ? (Tanya ibu intan).

Saya cuma bilang, nanti ya bu saya jelaskan kalau ada suaminya biar enak.

Sayapun bergenas pulang kembali untuk melaksanakan sholat magrib dulu sebelum nanti bada isya sekitar jam delapan malam berkunjung kembali kerumah intan sekaligus bertemu dengan suaminya.

Sekitar jam 20.30 saya kembali berkunjung kerumah intan dan disana sudah ada orang tua dan suami intan yang sudah menunggu. 

Singkat ceritanya, saya suruh suami intan menceritakan bagaimana kehidupan sehari hari bersama intan. dan bagaimana keadaan ataupun situasi sekeliling rumah ?

Suaminya menceritakan panjang lebar tentang keadaan rumah dan intan sekaligus anaknya yang perempuan. Saya pun langsung memberikan penjelasan dan masukan kepada suami usai ia menjelaskan cukup panjang, sekaligus menjalankan " Waking Hyppnosis " (Mohon maaf pemaparan apa saja yang saya jelaskan kesuaminya tidak saya tulis di artikel ini).

Usai ngomong panjang lebar dengan suami beserta orang tua intan sayapun pamit untuk pulang. Kejadian ini berkisar 2 bulan yang lalu, dan satu minggu kemarin saya berjumpa dengan orang tua intan tanpa sengaja mereka tersenyum dengan saya dan mengatakan " Mas Afrizal terimaskih banyak atas bantuannya, Intan sekarang udah kembali kerumahnya dan udah sehat seperti dulu, badanya sudah mulai pulih berangsur angsur ".

" Sebenarnya kasus intan adalah awalnya ketidak nyamanan tempat tinggal selanjutnya tetangga disekitar sana menjadi penguat depresi dengan sedikit mengucilkan (ini persepsi dari intan), selanjutnya saat intan dalam keadaan depresi, intan tidak ada tempat curhat yang terjadi dipendan terus menerus, selain itu suami pun berangkat pagi pulang malam saat intan sudah terlelap tidur, jadi sangat jarang sekali intan ngobrol dengan suami. Bagiamana mau cerita permasalahannya sedangkan ngobrol saya sangat jarang ".

Hai untuk para suami sekaligus pimpinan dalam keluarga, jika kalian baca artikel ini tolong jaga istrimu, tugasmu memang memberikan nafkah, tapi bukan berarti melupakan tugas tugas yang lainnya. Sekuat kuatnya istri dalam menghadapi setiap permasalah, percayalah ia akan lebih percaya diri jika suami berada dan men-supportnya.




About Afrizal

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.
/*### Code atau Tracking ID Google Analytic###*/ UA-78190159-1